follow follow

Rabu, 30 Oktober 2013

Pengertian, Prinsip dan Landasan Managemen Peserta Didik


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Di lingkungan sekolah, peserta didik merupakan unsur inti kegiatan pendidikan. Karena itu jika tidak ada peserta didik, tentunya tidak akan ada kegiatan pendidikan. Lebih-lebih di era persaingan antarlembaga pendidikan yang begitu ketat seperti sekarang, sekolah harus berjuang secara sungguh-sungguh. Untuk mendapat peserta didik. tak sedikit lembaga pendidikan yang mati karena kehabisan peserta didik. Bahkan ada ketua yayasan pendidikan yang mengatakan bahwa mencari peserta didik jauh lebih sulit ketimbang mencari guru baru. Dikatakannya, untuk mendapatkan guru baru cukup membuka lamaran, sehari sudah banyak yang datang. Sedangkan untuk mencari peserta didik, belum tentu dengan mengedarkan brosur dan memasang sepanduk peserta didik akan datang.
Hal ini menggambarkan bahwa dalam kegiatan pendidikan di era persaingan ini, peserta didik merupakan unsur  utama yang harus dimanajemen dan dihargai martabatnya tak jauh berbeda dengan pembeli/konsumen dalam dunia usaha.
Manajemen kurikulum, sarana dan prasarana, peserta didik, personalia dan pembiayaan adalah komponen-komponen pendukung untuk keberhasilan penyelenggaraan lembaga pendidikan (sekolah). Komponen-komponen tersebut merupakan satu kesatuan dalam upaya pencapaian tujuan lembaga pendidikan (sekolah), artinya bahwa satu komponen tidak lebih penting dari komponen lainnya. Satu komponen memberikan dukungan bagi komponen lainnya sehingga memberikan kontribusi yang tinggi terhadap pencapaian tujuan lembaga pendidikan (sekolah) tersebut.
Keberadaan peserta didik tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan saja, akan tetapi harus merupakan bagian dari kebermutuan dari lembagaan pendidikan (sekolah). Artinya bahwa dibutuhkan Manajemen peserta didik yang bermutu bagi lembaga pendidikan (sekolah) itu sendiri. Sehingga peserta didik itu dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial emosional, dan kejiwaan peserta didik. (Sesuai filosofi tujuan pendidikan, memanusiakan manusia). . Manajemen peserta didik berupaya mengisi kebutuhan akan layanan yang baik tersebut, mulai dari peserta didik tersebut mendaftarkan sekolah sampai peserta didik tersebut menyelesaikan studi di sekolah tersebut.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian dari manajemen peserta didik?
2.      Apa saja prinsip manajemen peserta didik?
3.      Apa Landasan manajemen peserta didik?
C.    Tujuan
1.      Mengetahui pengertian Manajemen Peserta Didik.
2.      Mengetahui prinsip-prinsip Manajemen Peserta Didik?
3.      Mengetahui landasan Manajemen Peserta Didik.











BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Manajemen peserta didik
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu (UUSPN: 2003). Sedangkan manajemen peserta didik adalah seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja serta pembinaan secara kontinu terhadap seluruh peserta didik (dalam lembaga pendidikan yang bersangkutan) agar dapat mengikuti proses PBM dengan efektif dan efisien.
Menurut ketentuan umum Undang – Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang di maksud peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Menurut Oemar Hamalik bahwa peserta didik adalah suatu komponen masukan dalam sistem pendidikan, yang selanjutnya diproses dalam proses pemdidikan, sehingga menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
Menurut Abu Ahmadi peserta didik adalah sosok manusia sebagai individu/pribadi (manusia seutuhnya). Individu diartikan “orang seorang tidak tergantung dengan orang lain, dalam arti benar-benar seorang pribadi yang menentukan diri sendiri dan tidak dipaksa dari luar, mempunyai sifat-sifat dan keinginan sendiri”.
Menurut ketentuan umum Undang-Undang RI No. 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional bahwa peserta didik adalah anggota masnyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Dari pengertian beberapa ahli, bisa dikatakan bahwa peserta didik adalah orang/individu yang mendapat pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan agar tumbuh dan berkembang dengan baik serta mempunyai kepuasan dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh pendidiknya.
Menurut Leonard D. White, manajemen adalah segenap proses, biasanya terdaat pada semua kelompok baik usaha negara, pemerintah atau swasta, sipil atau militer secara besar atau kecil.
Menurut The Liang Gie, manjemen adalah segenap proses penyelenggaraan dalam setiap usaha kerja sama sekelompok manusia untuk mencapai tujuan tertentu.
Sondang Palan Siagian, manajemen adalah keseluruhan proses kerja sama antara dua orang atau lebih yang didasrka atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.
Dalam kurikulum 1975 yang disebutkan dalam buku “Pedoman Pelaksanaan Kurikulum IIID, baik untuk Sekolah Dasar, Sekolah Menegah Pertama, maupun Sekolah Menengah Atas”, manajemen ialah segala usaha bersama untukmendayagunakan semua sumbe-sumber (personil maupun materiil) secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Dari pengertian Manajemen Pendidikan yang terakhir tersebut maka secara eksplit disebutkan bahwa manajemen sebagaimana yang digunakan secara resmi oleh Departemen Pendidikan Nasional seperti dimuat dalam kurikulum 1975 dan kurikulum kelanjutannya, diarahkan kepada tujuan pendidikan.
Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa di dalam pengertian manajemen selalu menyangkut adanya tiga hal yang merupakan unsur penting, yaitu usaha kerjasama, oleh dua orang atau lebih dan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Demikian juga Hamalik menambahkan bahwa siswa adalah suatu organisme yang hidup, di dalam dirinya beraneka ragam kemungkinan potensi yang hidup dan berkembang. Dari pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Manajemen Peserta Didik atau Pupil Personnel Administration adalah layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan, dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan, pendaftaran, layanan individual seperti penggembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah.
Menurut Knezevich, 1961 yang dimaksud manajemen peserta didik atau pupil personel administration adalah layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan, dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti : pengenalan, pendaftaran, layanan individuan seperti pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah.
Manajemen peserta didik juga dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah.
Menurut Hendayat Soetopo dan Wasty Soemanto, 1982 bahwa manajemen peserta didik adalah suatu penataaan atau pengaturan segala aktivitas yang berkaitan dengan peserta didik, yaitu mulai masuknya peserta didik sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari suatu sekolah atau suatu lembaga.
Manajemen peserta didik menunjukan kepada pekerjaan-pekerjaan atau kegiatan-kegiatan pencatatan peserta didik semenjak dari proses penerimaan sampai saat peserta didik meninggalkan sekolah karena sudah tamat mengikuti pendidikan pada sekolah itu.
Manajemen Peserta Didik juga dapat diartikan sebagai suatu proses pengurusan segala hal yang berkaitan dengan siswa di suatu sekolah mulai dari perencanaan, penerimaan siswa, pembinaan yang dilakukan selama siswa berada di sekolah, sampai dengan siswa menyelesaikan pendidikannya di sekolah.
Dengan demikian Manajemen peserta didik itu bukanlah dalam bentuk kegiatan-kegiatan pencatatan peserta didik saja, melainkan meliputi aspek yang lebih luas, yang secara operasional dapat dipergunakan untuk membantu kelancaran upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan.
B.     Prinsip manajemen peserta didik
Prinsip adalah pedoman yang harus diikuti dalam melaksanakan tugasnya. Prinsip manajemen peserta didik adalah pedoman yang harus diikuti  dalam melakukan pengelolaan peserta didik, prinsip-prinsip tersebut adalah:
1.      Manajemen peserta didik sebagai bagian dari keseluruhan manajemen sekolah, sehingga harus mempunyai kesamaan visi, misi dan tujuan manajemen sekolah secra keseluruhan. Penempatan manajemen peserta didik ditempatkan pada kerangka manajemen sekolah, tidak boleh ditempatkan diluar sistem sekolah.
2.       Segala bentuk kegiatan manajemen peserta didik harus mengemban visi pendidikan dan dalam rangka mendidik peserta didik
3.      Kegiatan manajemen peserta didik harus diupayakan untuk mempersatukan peserta didik yang mempunyai aneka ragam latar belakang dan punya bakat perbedaan. Perbedaan diantara peserta didik tidak diarahkan pada konflik diantara mereka, akan tetapi justru untuk mempersatukan dan saling memahami dan menghargai.
4.       Kegiatan manajemen peserta didik harus dipandang sebagai upaya pengaturan terhadap pembimbing peserta didik, disini diperlukan kerjasama yang baik dan harmonis anatara pembimbing dan yang dibimbing atau peserta didik.
5.      Kegiatan manajemen peserta didik harus mendorong dan memacu kemandirian peserta didik, dimana kemandirian ini akan memotivasi anak untuk tidak selalu tergantung  pada orang lain, dan dapat melakukan segala kegiatan secara mandiri. Hal itu sangat bermanfaat bagi peserta didik baik dilingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.
6.       Segala kegiatan yang diupayakan oleh manajemen peserta didik harus bersifat fungsional bagi kehidupan peserta didik di sekolah maupun bagi masa depannya.
C.    Landasan manajemen peserta didik
Landasan secara bahasa dapat diartikan sebagai pondasi, dasar, asas, patokan, dan standar. Manajemen berasal dari bahasa Inggris yaitu: to manage, berarti mengatur, mengelola, melaksanakan, dan memperlakukan (Hamid).  Manajemen Peserta Didik dapat diartikan sebagai suatu proses pengurusan segala hal yang berkaitan dengan siswa di suatu sekolah mulai dari perencanaan, penerimaan siswa, pembinaan yang dilakukan selama siswa berada di sekolah, sampai dengan siswa menyelesaikan pendidikannya di sekolah.
Jadi, landasan manajemen peserta didik adalah suatu patokan kepengurusan segala hal yang berkaitan dengan peserta didik untuk mewujudkan tercapainya suatu pendidikan yang sukses.
A.    Landasan Ontologi Manajemen peserta didik
Pertama-tama pada latar filsafat diperlukan dasar ontologis dari manajemen peserta didik. Adapun aspek realitas yang dijangkau teori dan manajemen peserta didik melalui pengalaman panca indra ialah dunia pengalaman manusia secara empiris baik yang berupa tingkat kwalitas maupun kwantitas hasil yang dicapai. Objek materi manjemen peserta didik ialah sisi manajemen yang mengatur seluruh kegiatan kependidikan, yaitu, Perencanaan, pengorganisasian, Pengerahan (motivasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, komonikasi, koordinasi, dan negoisasi serta pengembangan organisasi) dan pengendalian (Meliputi Pemantauan,penilaian, dan pelaporan.


B.     Landasan Epistemologis Manajemen peserta didik
Manajemen peserta didik didefinisikan sebagai seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Sumber daya pendidikan adalah sesuatu yang dipergunakan dalam penyelenggaraan pendidikan yang meliputi enam hal;
1.      administrasi peserta didik;
2.      administrasi tenaga pendidik;
3.      administrasi keuangan;
4.      administrasi sarana dan prasarana;
5.      admistrasi hubungan sekolah dengan masyarakat;
6.      administrasi layanan khusus
C.     Dasar      Axiologi          manajemen      peserta didik
Aksiologi merupakan suatu pendidikan yang menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain nilai-nilai tersebut ditanamkan dalam pribadi para pemimpin pendidikan (kepala sekolah), guru, staf dan anak didik. Sesuai dengan tujuannya, maka manfaat manajemen peserta didik;
1.      Terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran yang Aktif, Inovative, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM);
2.      Terciptanya peserta didik yang aktif mengembangkan potensinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara;
3.      Terpenuhinya salah satu dari 4 kompetensi tenaga pendidik dan kependidikan (tertunjangnya kompetensi profesional sebagai pendidik dan tenaga kependidikan sebagai manajer);
4.      Tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien;
5.      Terbekalinya tenaga kependidikan dengan teori tentang proses dan tugas administrasi pendidikan (tertunjangnya profesi sebagai manajer pendidikan atau konsultan manajemen pendidikan);
6.      Teratasinya masalah mutu pendidikan.(Husaini, 2006:8)
Kemanfaatan teori Manajemen peserta didik tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab. Oleh karena itu nilai manajemen peserta didik  tidak hanya bersifat intrinsic sebagai ilmu seperti seni untuk seni, melainkan juga nilai ekstrinsik dan ilmu untuk menelaah dasar-dasar kemungkinan bertindak dalam praktek melalui kontrol terhadap pengaruh yang negatif dan meningkatkan pengaruh yang positif dalam pendidikan.
 Dengan demikian ilmu pendidikan tidak bebas nilai mengingat hanya terdapat batas yang sangat tipis antar pekerjaan administrasi pendidikan dan tugas pendidik sebagi pedagok. Dalam hal ini relevan sekali untuk memperhatikan pendidikan sebagai bidang yang sarat nilai seperti dijelaskan oleh Phenix (1966). Itu sebabnya pendidikan memerlukan teknologi pula untuk menjembatani persoalan yang sedang berlangsung maupun yang akan terjadi.








BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Manajemen Peserta Didik atau Pupil Personnel Management adalah layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan, dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan, pendaftaran, layanan individuan seperti penggembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah.
Prinsip manajemen peserta didik yaitu Manajemen peserta didik sebagai bagian dari keseluruhan manajemen sekolah, Segala bentuk kegiatan manajemen peserta didik harus mengemban visi pendidikan dan dalam rangka mendidik peserta didik, Kegiatan manajemen peserta didik harus diupayakan untuk mempersatukan peserta didik yang mempunyai aneka ragam latar belakang dan punya bakat perbedaan, Kegiatan manajemen peserta didik harus dipandang sebagai upaya pengaturan terhadap pembimbing peserta didik, Kegiatan manajemen peserta didik harus mendorong dan memacu kemandirian peserta didik, Segala kegiatan yang diupayakan oleh manajemen peserta didik harus bersifat fungsional bagi kehidupan peserta didik di sekolah maupun bagi masa depannya.
landasan manajemen peserta didik adalah suatu patokan kepengurusan segala hal yang berkaitan dengan peserta didik untuk mewujudkan tercapainya suatu pendidikan yang sukses.
Daftar Pustaka
SON's Blog 18.13http://soni-guruidaman.blogspot.com/2012/05/makalah-manajemen-peserta-didik.html
Mulyasa. 2007. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Rohiat. 2009. Manajemen Sekolah. Bandung: PT Refika Aditama
Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. 2009. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Yamin, Martinis. 2007. Kiat Membelajarkan Siswa. Jakarta: Gaung Persada Press


Guru Kreatif

  


GURU KREATIF DAN STRATEGI PENGAJARAN EFEKTIF YANG MOTIVASI PELAJAR UNTUK BELAJAR *

 Konder Manurung
Diterjemahkan dari
Indonesian Jurnal of Science Education.
CREATIVE TEACHERS AND EFFECTIVE TEACHING STRATEGIES THAT MOTIVATE LEARNERS TO LEARN *
Konder Manurung




GURU KREATIF DAN STRATEGI PENGAJARAN EFEKTIF YANG MOTIVASI PELAJAR UNTUK BELAJAR *

 Konder Manurung
Abstrak
Jurnal ini bertujuan untuk membahas bagaimana guru kreatif dan strategi pengajaran yang efektif memotivasi peserta didik untuk belajar. The naissance pembelajaran aktif di mana peserta didik harus aktif selama proses belajar mengajar, telah mengubah subjek dan pusat pengajaran proses belajar dari guru kepada siswa. Proses belajar mengajar adalah kontekstual dan penekanan adalah untuk memenuhi kebutuhan peserta didik. Mode ini membutuhkan partisipasi aktif mengajar peserta didik. Modus belajar aktif membutuhkan guru kreatif dan strategi pengajaran yang efektif sehingga belajar mengajar dapat mengubah pengetahuan menjadi tugas pembelajaran yang efektif dan kegiatan. Tugas dan kegiatan belajar dirancang untuk memungkinkan peserta didik untuk mengalami aplikasi praktis dari pengetahuan yang telah mereka pelajari. Desain instruksi yang memotivasi peserta didik untuk belajar juga disajikan dan dibahas.

Pengantar
Melakukan belajar aktif telah menjadi impian setiap guru yang profesional pada setiap jenjang pendidikan. Pengenalan pembelajaran aktif mengubah peran guru selama proses belajar mengajar. Jika strategi pembelajaran konvensional menekankan pada guru, pembelajaran aktif menempatkan lebih menekankan pada partisipasi aktif peserta didik dan kemampuan guru untuk melibatkan lingkungan peserta didik sebagai sumber belajar. Ini berarti bahwa pembelajaran aktif bermaksud untuk mengkontekstualisasikan bahan ajar dan peserta didik ditempatkan sebagai pusat dari proses belajar mengajar. Penempatan peserta didik sebagai pusat pengajaran di Student Centered Learning (SCL) Metode dan model pembelajaran aktif telah membawa tentang motivasi yang lebih baik bagi peserta didik untuk belajar karena setiap siswa termotivasi dan terlibat dalam setiap langkah dari proses pengajaran.
Mengaktifkan dan memotivasi peserta didik selama proses belajar mengajar antara peran guru dalam mode pembelajaran aktif. Mengaktifkan peserta didik menunjukkan bahwa peserta didik tidak hanya ditugaskan untuk menerima atau mendengarkan apa yang guru telah menjelaskan tetapi mereka harus terlibat dalam bertanya atau menjawab pertanyaan, bekerja dalam kelompok, membantu peserta didik lainnya, dan menunjukkan pemikiran kritis dan kreatif. Karena pengajaran ini diharapkan dapat memotivasi peserta didik perlu mempertimbangkan teknik yang digunakan dalam proses belajar mengajar.
Hal ini tidak dianjurkan kepada guru untuk mengirimkan pengetahuan atau informasi saja, tetapi pengajaran harus lebih menekankan pada pengembangan dari keterampilan siswa (Ragains, 1995; Lasleyet al. 2002). Hal ini menunjukkan bahwa lebih banyak tugas dan kegiatan bagi siswa harus dirancang dan direncanakan dengan baik sehingga memungkinkan mereka untuk berlatih apa yang dapat mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka sebagai hasil belajar. Ini semacam pengajaran. Model mengharuskan para guru kreatif dan cocok atau strategi pengajaran yang efektif.
Guru Kreatif
Hasil pembelajaran konvensional memiliki menjadi menghafal teori atau konseptual pengetahuan. Proses pengajaran menempatkan penekanan lebih pada transmisi pengetahuan dan proses pengajaran yang sangat tergantung pada buku teks yang tidak menyentuh kebutuhan riil peserta didik. Bahan dalam buku dirancang untuk tujuan pedagogis. Situasi seperti ini mendorong peserta didik untuk menjadi pasif dan akibatnya mengajar belajar proses monoton. Di sisi lain, belajar aktif menuntut guru untuk menjadi kreatif tidak hanya dalam proses pengajaran, tetapi juga sebelumnya mengajar di mana guru dapat mempersiapkan otentik bahan untuk memotivasi peserta didik untuk belajar. Telah dicatat dalam proses belajar mengajar bahwa bahan-bahan otentik lebih disukai bahan dibuat karena bahan otentik kebutuhan riil menggenapi peserta didik (Richard, 2002; Harmer, 2007).
Kreativitas dalam proses belajar mengajar dapat dilihat sebagai upaya guru untuk memfasilitasi belajar untuk mencapai tujuan pengajaran. guru kreatif menggunakan segala sesuatu yang dia miliki untuk mengaktualisasikan pembelajaran aktif untuk memotivasi pelajar seperti pemikiran, fakta, dan ide-ide atau bahkan kombinasi pemikiran, fakta dan ide-ide. Kreativitas dari guru dapat dilihat dalam kinerja selama mengajar proses pembelajaran dan dalam sehari-hari kegiatan. Guru kreatif mampu melakukan ajarannya proses belajar efektif dengan menggabungkan berbagai kontekstual instruksional bahan, strategi pengajaran, pembelajaran media dan pengalaman kehidupan nyata. Richard (2002) dan Moore (2005) berpendapat bahwa kemampuan seorang guru untuk mempersiapkan model pengajaran seperti memiliki efek positif pada motivasi pelajar karena kebutuhan riil dan kepentingan peserta didik terpenuhi dan pembelajar sendiri terlibat dalam proses belajar mengajar. Ini menyiratkan bahwa kreativitas guru secara langsung terkait dengan cara mereka melayani peserta didik sebagai hasil analisis kebutuhan peserta didik.
Kreatifitas guru sangat penting untuk memfasilitasi efektif belajar. Halliwell (1993) menunjukkan kreativitas sebagai bagian dari normalitas sebagai bagian sehari-hari tindakan dan ide-ide. Ini jenis kreativitas diperlukan untuk memfasilitasi pengajaran yang efektif dalam proses belajar mengajar sehari-hari di mana guru mampu mengatasi masalah umum dihadapi oleh peserta didik, seperti menjadi takut untuk mengajukan pertanyaan atau melakukan presentasi, menjadi malu untuk mendiskusikan dalam kelompok, yang ragu-ragu untuk memainkan peran, dan menjadi takut membuat kesalahan. Guru kreatif dapat merancang menyenangkan mengajar di mana hal-hal yang kompleks dapat dijelaskan secara sederhana atau tidak tertarik peserta didik menjadi tertarik pada pengajaran proses, atau bahkan dapat mengetahui diterima contoh untuk memperjelas topik jelas bagi peserta didik.
Singkatnya, guru kreatif menyediakan sebanyak ruang mungkin bagi peserta didik dalam pembelajaran desain untuk mengembangkan khususnya siswa kerangka pemahaman. Efektif strategi pengajaran terus diselidiki dan hasil penyelidikan dipekerjakan untuk mencapai kinerja maksimum dari peserta didik baik dalam dan keluar dari kegiatan kelas. Guru yang efektif tetap siswa terlibat dalam pelajaran dan menguasai mereka berbagai strategi pengajaran yang efektif (Moore, 2005; DBE2, 2010).
Strategi Pengajaran Yang Efektif
Para peneliti telah melakukan penelitian cukup pandangan untuk mengetahui strategi pengajaran yang efektif. Penelitian tentang strategi pengajaran yang efektif sebagian besar mengambil mahasiswa sebagai sampel. Siswa evaluasi terhadap guru mereka telah membawa perubahan signifikan dalam mengajar tujuan dan metode mengajar. (1984) temuan Ory ini misalnya menunjukkan bahwa anggota fakultas memiliki untuk lebih mengembangkan dan meningkatkan pengajaran keterampilan. Dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan pada tujuan instruksi, Scriven (1995) berpendapat bahwa siswa Peringkat di antara faktor-faktor yang signifikan untuk dipertimbangkan. Untuk tujuan administrasi, Fanklin (2001) dan Kulik (2000) menunjukkan bahwaperingkat siswa membantu administrator untuk desain kedua penilaian sumatif dan formatif, untuk memberikan penghargaan mengajar, dan untuk menetapkan guru untuk kursus tertentu. Lebih penting lagi, Braskamp (2000) menyoroti penggunaan dari hasil penilaian untuk mengembangkan dan meningkatkan efektivitas pengajaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada beberapa penting komponen yang harus dipertimbangkan untuk menahan efektif mengajar.
Pengajaran yang efektif telah didefinisikan secara berbeda oleh penulis yang berbeda. Pengajaran yang efektif adalah didefinisikan sebagai pengajaran yang menghasilkan menguntungkan dan siswa tujuan pembelajaran melalui penggunaan prosedur yang sesuai (Centra, 1993). Sementara Braskamp dan Ory (1994) mendefinisikan efektif mengajar sebagai penciptaan situasi di mana pembelajaran yang tepat terjadi; membentuk situasi tersebut adalah apa yang guru sukses telah belajar untuk melakukan secara efektif. Kedua definisi menunjukkan bahwa pengajaran yang efektif membutuhkan strategi pengajaran yang efektif. pengajaran yang efektif strategi membantu peserta didik untuk menerapkan, menganalisis, dan mensintesis, untuk menciptakan pengetahuan baru, dan memecahkan masalah baru.
Telah dicatat bahwa ada beberapa yang efektif strategi mengajar di bidang yang berbeda studi. Strategi, secara umum, menekankan pada kemungkinan untuk menerapkan apa yang telah dipelajari untuk praktek nyata untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan pemangku kepentingan lainnya. Di antara strategi-strategi adalah contoh-contoh praktis, menunjukkan dan memberitahu, kasus penelitian, desain proyek dipandu, terbuka laboratorium, teknik flowchart, terbuka kuis, brainstorming, tanya-jawab metode, perangkat lunak, peningkatan pengajaran, dan bentuk umpan balik yang cepat untuk rekayasa (Lacey, et,al. 1995). Untuk mengajar aktif pada pendidikan tinggi, antara model yang efektif kooperatif belajar, pembelajaran berbasis masalah, langsung instruksi, (DBE2, 2010).
Pedagogi transformatif telah membawa baru cakrawala dalam proses belajar mengajar di mana harus ada keseimbangan antara keterampilan kognitif dan keterampilan emosional. Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk berpikir secara konstruktif dan untuk bertindak secara bertanggung jawab. Nelson dan Low (2005) dicatat bahwa peserta didik yang cerdas secara emosional terampil dalam komunikasi interpersonal, manajemen diri, pencapaian tujuan, dan menunjukkan tanggung jawab pribadi dalam menyelesaikan tugas dan bekerja secara efektif. Dengan menjaga keseimbangan dalam pengajaran proses pembelajaran hasil mengajar tidak hanya mengembangkan keterampilan kognitif tetapi juga keterampilan psikomotor. Lasley, di el. (2002) sangat menyarankan bahwa pengembangan keterampilan kognitif dan psikomotorik membantu pelajar untuk menerapkan pengetahuan peserta didik sebelumnya telah dipelajari.
Dalam rangka untuk mendapatkan yang terbaik dari belajar mengajar, Ramsdan (2012) menyoroti enam prinsip pengajaran yang efektif dalam pendidikan tinggi. Itu pertama adalah menarik dan jelas. Prinsip ini adalah untuk menekankan bahwa itu adalah tugas dari setiap guru untuk membuat subjek menarik. Seorang guru harus mampu menarik perhatian siswa pada subjek sehingga siswa termotivasi untuk ikut berpartisipasi. Dengan kata lain siswa keingintahuan dibangun pada subjek. Keingintahuan dapat dibangun ketika seorang guru dapat menjelaskan hal-hal atau topik dalam setiap mata pelajaran jelas dan guru ingat untuk memperjelas alasan mengapa fakta atau keterampilan tertentu sangat penting untuk memahami keseluruhan. Yang kedua adalah kepedulian dan menghormati siswa dan pembelajaran siswa. Sekarang umumnya percaya pada pembelajaran konvensional guru yang dianggap sebagai satu-satunya sumber pengetahuan dan lebih ironisnya seorang guru ahli dan siswa tidak. Sebaliknya, dalam pengajaran yang efektif, guru harus tertarik pada apa yang siswa ketahui dan tidak tahu, seorang guru harus bermurah hati, guru harus mampu memudahkan bagi peserta didik untuk ide utama dan fakta, dan lebih penting lagi, guru harus melakukan upaya untuk membuat sulit bagian yang mudah. Yang ketiga adalah penilaian yang tepat dan umpan balik. Seorang guru harus mampu merancang penilaian yang tepat di mana penilaian sesuai dengan materi yang akan dipelajari. Ketika umpan balik diberikan, umpan balik harus terkait apa yang siswa masih perlu belajar untuk mendapatkan benar. Keempat adalah tujuan yang jelas dan intelektual menantang. Seorang guru harus merumuskan ajaran tujuan jelas. Pernyataan yang jelas tentang apa yang dipelajari mendorong cocok antara siswa usaha dan tujuan program. Kelima adalah kemandirian, kontrol dan keterlibatan. Pengajaran proses belajar harus mendapatkan siswa yang terlibat dengan konten dalam cara yang memungkinkan mereka untuk mencapai pengertian. Proses pengajaranharus menyediakan pelajar cukup ruang untuk belajar dengan kecepatan mereka sendiri dan dalam urutan mereka sendiri. Peserta didik perlu merasa memegang kendali atas apa mereka lakukan, serta merasa bahwa seorang guru mengarahkan peserta didik. Harus ada keseimbangan untuk belajar dengan baik dan untuk menikmati belajar itu sendiri. Yang terakhir adalah belajar dari siswa. Untuk belajar dari peserta didik adalah pujian dengan lima prinsip pertama. Meskipun pertama lima prinsip yang diperlukan tetapi tidak cukup untuk mengajar baik dalam pendidikan tinggi tanpa belajar dari peserta didik. Efektif mengajar berarti melihat hubungan antara pengajaran, pembelajaran dan konten sebagai bermasalah, menentu dan relatif. Ini melibatkan menerus mencoba untuk mencari tahu bagaimana mengajar mempengaruhi belajar, dan beradaptasi dalam terang bukti guru mengumpulkan.
Merancang Instruksi Yang Memotivasi Peserta Didik Untuk Belajar
Mencapai kebutuhan tujuan instruksional strategi pengajaran yang efektif. Untuk memilih yang efektif strategi pengajaran penting bagi seorang guru untuk mempertimbangkan isi instruksional bahan dan pencapaian maksud dan tujuan dari pengajaran. Moore (2005) menyoroti faktor untuk memilih strategi terbaik untuk proses pengajaran yang efektif sebagai, kebutuhan, siswa siswa usia, mahasiswa intelektual kemampuan, siswa fisik dan mental karakteristik, rentang perhatian siswa,
tujuan pelajaran, dan isi yang akan diajarkan. Mengambil faktor-faktor ini menjamin pilihan strategi yang efektif yang terbaik melayani mengajar situasi. Akibatnya, motivasi peserta didik untuk belajar akan membangkitkan sejak instruksional bahan dan strategi yang dipilih memenuhi kebutuhan mereka dan sesuai dengan gaya belajar mereka.
Perencanaan instruksi penting bagi guru. Bahan ajar yang baik dapat memperoleh dan mempertahankan perhatian peserta didik dan membangkitkan motivasi belajar. Perlu dicatat bahwa menarik bahan ajar adalah orang-orang yang direncanakan tidak terlalu panjang dan mengandung berbagai kegiatan menarik. Mari kita mengambil contoh beberapa menit mengajar 50 (untuk unit kredit satu saja), Moore (2005) menunjukkan waktu penjatahan sebagai berikut; Sekilas topik (10 menit), menampilkan film (20 menit), diskusi Film (20 menit), Demonstrasi (5 menit), dan Membungkus dan meninjau (5 menit). Ini menyiratkan bahwa pengajaran yang efektif melibatkan peserta didik dari pembukaan ke bagian penutupan dan guru membuat kegiatan yang dilakukan berdasarkan waktu yang dialokasikan. Mengenai desain instruksi, desain Gagne (1985) masih diadopsi oleh para guru di seluruh dunia.
Menurut Gagne, ada sembilan peristiwa yang dibutuhkan untuk pembelajaran yang efektif desain. Sembilan peristiwa dapat digambarkan sebagai berikut:
Sembilan Langkah Instruksi Gagne
Langkah pertama adalah untuk mendapatkan perhatian. Pada langkah ini guru memperkenalkan masalah atau situasi baru dengan menggunakan "perangkat menarik" yang meraih perhatian pembelajar. Perangkat dapat di bentuk Mendongeng, Demonstrasi. Menghadirkan masalah yang harus dipecahkan, Melakukan sesuatu dengan cara yang salah (instruksi akan kemudian menunjukkan bagaimana melakukannya dengan cara yang benar), dan mengapa penting. Dalam jangka instruksional lainnya langkah pertama ini dikenal pra-kelas atau apersepsi.
Langkah kedua adalah untuk menginformasikan pelajar tujuan. Dalam langkah ini guru menginformasikan tujuan pengajaran yang memungkinkan peserta didik untuk mengorganisasikan pikiran mereka dan di sekitar apa yang mereka sekitar untuk melihat, mendengar, dan / atau lakukan. Hal ini juga penting bagi seorang guru untuk menggambarkan tujuan pelajaran, menyatakan apa yang peserta didik akan dapat capai dan bagaimana mereka akan dapat menggunakan pengetahuan. Ini berarti bahwa dengan mengetahui hasil belajar peserta didik akan dapat memperhatikan penjelasan tertentu dan karena itu membangkitkan perhatian mereka dan menanamkan motivasi mereka.
Langkah ketiga adalah untuk merangsang mengingat sebelumnya pengetahuan. Dalam langkah ini siswa diperbolehkan untuk membangun pengetahuan atau keterampilan mereka sebelumnya. Itu umumnya benar bahwa hal itu jauh lebih mudah untuk membangun pada apa yang sudah diketahui oleh misalnya mengingatkan mereka pengetahuan sebelumnya yang relevan dengan pelajaran saat ini. Langkah ini juga memungkinkan guru untuk memberikan peserta didik dengan kerangka yang membantu mereka untuk belajar dan mengingat. Bagian dari merangsang ingat adalah memiliki peserta didik mencatat dan menggambar peta konsep.
Langkah keempat adalah untuk menyajikan materi. Di langkah ini guru mampu menempatkan mengajar instruksional bahan ke bagian yang lebih kecil untuk menghindari kelebihan memori. Seorang guru harus mampu menggunakan seluruh informasi untuk membantu pelajar untuk mengingat informasi. Cara terbaik untuk menempatkan bahan ajar ke bagian yang lebih kecil adalah untuk mengatur bagian berdasarkan tingkat kesulitan. Ini jenis organisasi bahan ajar membantu guru untuk memilih bagian mana yang diajarkan pertama dan bagian yang berikutnya. Dengan begitu peserta didik mampu lolos dari bahan pembelajaran sederhana untuk lebih satu kompleks.
Langkah kelima adalah untuk memberikan panduan untuk belajar. Dalam langkah ini guru harus memberikan yang jelas instruksi dan konsep yang jelas. Instruksi yang jelas mencegah pelajar dari kehilangan waktu dalam pemahaman tentang apa yang harus dilakukan selama proses pengajaran. Konsep yang jelas membantu peserta didik untuk mentransfer teori ke praktis pengetahuan. Oleh karena itu, proses pengajaran menghindari kebosanan dan frustrasi.
            Langkah keenam adalah untuk memperoleh kinerja. dalam hal ini langkah guru harus memberikan latihan untuk berlatih apa yang telah mereka pelajari. Hal ini dapat dilakukan dengan membiarkan pelajar melakukan sesuatu secara individu atau dalam kelompok kecil dari apa yang mereka baru saja belajar. Hal ini dapat sejalan dengan apa Albert Bandura (Gagne, 1995) berpendapat bahwa belajar observasi mungkin atau mungkin tidak melibatkan imitasi. Sebagai contoh jika Anda melihat seseorang mengemudi di depan Anda memukul lubang, dan  maka Anda menyimpang melewatkannya-Anda pelajari dari belajar observasional, bukan imitasi (jika Anda belajar dari imitasi maka Anda juga akan memukul lubang yang dalam).
Langkah ketujuh adalah untuk memberikan umpan balik. Di langkah ini guru menunjukkan kebenaran dari tanggapan pelajar, menganalisis perilaku pelajar. Ini bisa menjadi tes, kuis, atau komentar verbal. Umpan balik harus spesifik, tidak, "Anda melakukan pekerjaan yang baik", guru harus memberitahu mereka "mengapa" mereka melakukan pekerjaan yang baik atau memberikan bimbingan khusus.
Langkah kedelapan adalah untuk menilai kinerja. Di langkah ini seorang guru harus menguji peserta didik untuk menentukan jika pelajaran telah learned.The hasil penilaian juga dapat memberikan kemajuan umum informasi. Langkah terakhir adalah untuk meningkatkan retensi dan transfer. Dalam langkah ini guru harus menginformasikan peserta didik tentang situasi masalah yang sama, memberikan latihan tambahan, menempatkan pelajar dalam situasi transfer dan meninjau pelajaran.
Untuk mendukung pelaksanaan atas sembilan langkah rencana pelajaran yang efektif adalah wajib. Sebuah rencana pelajaran digunakan sebagai pedoman dalam proses belajar mengajar. guru kreatif mempersiapkan rencana pembelajaran yang sesuai dengan merumuskan dan jelas tujuan yang didefinisikan ditulis sebagai gambaran dari hasil belajar. Menurut Farrel (2001), kemampuan untuk merumuskan tujuan pembelajaran yang jelas membantu guru untuk menyatakan secara tepat apa yang ingin belajar peserta didik, membantu guru untuk membimbing pemilihan yang tepat kegiatan, dan membantu guru untuk memberikan fokus pelajaran secara keseluruhan dan arah.


Kesimpulan
1.      Guru kreatif adalah mereka yang mampu menciptakan pengajaran yang efektif. Peran kreatif guru dimulai dari penyusunan pengajaran sampai penilaian prestasi. Bagian persiapan, dalam tahap pembelajaran sebelumnya, seorang guru yang kreatif menganalisis apa kebutuhan peserta didik dan hasil analisis kebutuhan yang digunakan untuk merumuskan instruksional tujuan dan desain bahan ajar dalam RPP.
2.      Bahan ajar yang efektif mengandung tugas dan kegiatan yang mempromosikan tidak hanya kognitif keterampilan tetapi juga keterampilan psikomotor.
3.      Tak satu pun dari strategi pengajaran sempurna dalam dirinya sendiri. Dalam rangka untuk melakukan pengajaran yang efektif, guru kreatif memilih berbagai strategi belajar yang efektif yang mendukung satu sama lain untuk mengaktifkan peserta didik, untuk melibatkan peserta didik dan untuk menanamkan motivasi belajar. strategi yang efektif adalah mereka yang dapat mentransfer pengetahuan ke dalam aplikasi praktis.
4.      Motivasi penting untuk membawa keberhasilan pembelajaran. Guru kreatif, yang dirancang dengan baik bahan ajar, dan strategi pembelajaran yang efektif di antara faktor penting yang memotivasi peserta didik untuk belajar.


Referensi
1.       __________ 2010. Pembelajaran Aktif di Perguruan Tinggi. Jakarta. DBE2-US
AID. TOT Nasional Ekspansi 2010.

2.       Braskamp, L. A., & Ory, J. C. 1994. As­sessing faculty work: Enhancing individ­ual
and instructional performance. San Francisco, CA: Jossey

3.       Centra, J. A. 1993. Reflective faculty evaluation. San Francisco. CA: Jossey- Bass
.
4.       Farrel, T.S., 2002. Lesson Planning. In Richard, J.C., and Renandya, W.A. (Eds).
Methodology in Language Teach­ing; An anthology of currect practice. Cambridge. Cambridge University Press.

5.       Franklin, J. (2001). Interpreting the num­bers: Using a narrative to help others read
student evaluations of your teaching accurately. In K. G. Lewis (Ed.), Tech­niques and strategies for interpreting student evaluations. New Directions for Teaching and Learning, 87. San Francis­co, Ca: Jossey-Bass

6.       Gagne, R. 1985. The condition of learn­ing and the theory of instruction. New York.
Holt, Rinehart, & Winston.

7.       Halliwell, S. 1993. Teacher Creativity and teacher education. In Bridges, D. (Ed).
Developing teachers profession­ally: reflections for initial and in-service trainers. Roudlege.

8.       Harmer, J. 2007. How to teach English. England. Pearson Education Limited.

9.       Kulik, J., A. (2001). Student ratings: Validity, Utility, and controversy. In M. Theall,

P. C. Abrami, & L.A. Mets (Eds.),
The student ratings debate: Are they
valid? how can we best use them? New directions for Institutional Research, 109. San Francisco, Ca: Jossey-Bass.

10.   Lasley II, T.J., Matczynski, T.J., and Rowley, J.B. 2002. Instructional Mod­els;
Strategy for teaching in a diverse society. USA. Wadswoth Group.

11.   Moore, K, D. 2005. Effective Instruction­al Strategies; From theory to practice.
USA. Sage Publications.

12.   Nelson B. D., and Low, R. G. 2005. Emo­tional Intelligence; The role of transfor
mative learning in academic excellence. Texas. TEXAS STUDY magazine for sec­ondary education.

13.   Ory, J. C. (1980). The Influence of Stu­dents’ Affective Entry on Instructor and
Course Evaluations. Review of Higher Education, 4, 13 – 24
14.   Ragains, P. 1995. Four variations on Drueke’sactive learning paradigm. Re­search
Strategies 13. 40-50.

15.   Ramsdam, P. University Teaching and the Students. Retrieved 19 January 2012,
from http://paulramsden48.wordpress. com

16.   Richard, J.C. 2001. Curriculum develop­ment in language teaching. Cambridge.
Cambridge University Press.

17.  Scriven, M. (1995). Student ratings of­fer useful input to teacher evaluations.
Practical Assessment, Research and Evaluation, 4(7), 1-5. Retrieved Janu­ary 19,2012 from http://ericae.net/pare/ getvn.asp?v=4&n=7


Translate